Buletin Al-Fikrah Edisi 11 Tahun XIV: Bahaya Mengumbar Pandangan

Pandangan adalah jendela bagi hati. Barang siapa yang mampu menjaga pandangannya, maka akan bagus hatinya. Namun, bagi ...

Mufti Yaman Ziarah ke Ma'had 'Aly al-Wahdah

Satu lagi ulama besar berkunjung ke Ma’had ‘Aly al-Wahdah. Kali ini, Wakil Ketua Majelis Ulama Yaman menyempatkan diri bersilaturrahim ...

KULIAH PERDANA SEMESTER GENAP TAHUN AJARAN 1433-1434 H

Senin, 30 Rabiul Awwal 1434 H (11 Februari 2013 M), masjid Al-Ihsan Kampus Ma'had 'Aly Al-Wahdah (STIBA Makassar) kembali disesaki ...

Meraih Kelezatan Beribadah

Sesungguhnya Allah tidaklah menciptakan para makhluk dengan sia-sia dan tidak pula membiarkan amalan mereka tidak berguna ,akan tetapi ...

::: Marhaban Bikum Wa Jazakumullahu Khairan Atas Kunjungannya di Website Kami ::: www.stibamks.net :::

Senin, 13 Januari 2014

Pengalihan Website Resmi STIBA Makassar


Kepada pengunjung setia website stibamks.net, mulai hari ini dan seterusnya insya Allah website resmi STIBA Makassar telah berpindah alamat ke stiba.net, jadi yang ingin meng'update' berita-berita berkenaan dengan kampus STIBA Makassar silakan kunjungi website baru kami di stiba.net.

Adapun website ini (stibamks.net) hanya difungsikan sebagai arsip saja.
Sekian dan terima kasih, jazakumullahu khairan.

Minggu, 07 Juli 2013

Ramadhan di Ambang Pintu



Dua orang mendatangi Rasulullah ` lalu mengumumkan keislamannya. Meski bersamaan memeluk Islam, ternyata semangat berislam mereka tidaklah sama. Seorang di antara mereka lebih mujtahid, keislamannya lebih baik dari seorang yang lain. Pada suatu medan jihad, berperanglah mujtahid ini hingga syahid di jalan Allah. Sementara seorang yang lain usianya dipanjangkan satu tahun lagi, kemudian ia pun wafat. 

Suatu hari, Thalhah E bermimpi. Inilah kisah mimpinya, “Aku melihat dalam mimpi tengah berada di sisi pintu masuk surga. Ternyata, aku berada di antara mereka berdua (dua sahabat dalam kisah di atas). Tiba-tiba keluarlah seseorang dari dalam surga, lalu mengizinkan sahabat yang wafat belakangan untuk masuk ke dalam surga lebih dulu. Tak lama berselang, orang itu kembali keluar lalu mengizinkan sahabat yang syahid masuk surga. Kemudian orang itu kembali lagi dan berkata kepadaku, “Kembalilah, karena Anda belum diizinkan untuk masuk.” Maka Thalhah pun menceritakan mimpinya kepada orang-orang. Mereka pun takjub dan heran mendengarnya. Maka kisah dalam mimpi itu pun sampai kepada Rasulullah `, lalu mereka menceritakannya kepada beliau. 

“Apa yang membuat kalian heran?” Mereka menjawab, “Wahai, Rasulullah! Orang yang meninggal lebih dulu ini lebih baik keislamannya, dan dia pun mati syahid. Tapi orang yang wafat belakangan malah masuk surga lebih dulu.” Rasulullah ` pun bersabda, “Bukankah ia (yang terakhir wafat) masih hidup setahun setelah syahidnya (orang pertama)?” Mereka berkata, “Benar!” Rasulullah ` melanjutkan, “Dan ia masih sempat mendapatkan bulan Ramadhan lalu ia berpuasa, dan shalat selama setahun?” Mereka berkata, “Benar!” Rasulullah ` berkata, “Maka (perbedaan) di antara mereka lebih jauh dari jarak antara langit dan bumi.” (HR. Ibnu Majah dengan sanad shahih).

Subhanallah!
Renungkan, ketika kemarin Anda masih bersama dengan saudara-saudara dan teman-teman Anda. Mereka bersama Anda berpuasa, shalat tarawih, dan membaca al-Qur’an. Ternyata, ajal telah datang menjemputnya sebelum sempat bersua dengan Ramadhan tahun ini. Mereka kini berada dalam kubur mereka ditemani amal-amal mereka. Bayangkan keadaan mereka dan perjalanan panjang yang tengah mereka lalui saat ini. 

Pikirkan saudara-saudara dan rekan-rekan Anda yang saat ini tengah terbaring sakit. Mereka menyambut Ramadhan sementara mereka terpenjara di antara tembok-tembok putih. Tiada daya dan upaya, hanya angan-angan semata sekiranya mereka dapat bersama-sama kaum muslimin lainnya menyemarakkan Ramadhan dengan berbagai ibadah.

Renungkan pula keadaan orang-orang yang terhalang dari merasakan nikmatnya Ramadhan. Mereka yang dalam bulan Ramadhan hanya bisa menambah dosa, maksiat dan semakin jauh dari Allah. Mereka tetap saja menjauhkan diri dari rahmat dan ampunan Allah di waktu yang paling mulia dan mahal sekalipun. 

Renungkan, dan Anda akan mengetahui betapa besar nikmat yang telah Allah berikan kepada Anda.

SUDAHKAH ANDA BERSIAP MENYAMBUT RAMADHAN?
Allah l berfirman (artinya), "Dan jika mereka mau berangkat, tentulah mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu, tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka. Maka Allah melemahkan keinginan mereka. Dan dikatakan kepada mereka, "Tinggallah kamu bersama orang-orang yang tinggal itu." (QS. At-Taubah: 46).

Ibnul Qayyim t berkata, "Berhati-hatilah terhadap dua perkara. Pertama: Kewajiban telah datang, tetapi kalian tidak siap untuk menjalankannya, sehingga kalian mendapat hukuman berupa kelemahan untuk memenuhinya dan kehinaan dengan tidak mendapatkan pahalanya…."

Allah I berfirman (artinya), "Maka jika Allah mengembalikanmu kepada suatu golongan dari mereka, kemudian mereka minta izin kepadamu untuk keluar (pergi berperang), maka katakanlah, "Kamu tidak boleh keluar bersamaku selamanya dan tidak boleh memerangi musuh bersamaku. Sesungguhnya kamu telah rela tidak pergi berperang kali yang pertama. Kerana itu, duduklah bersama orang-orang yang tidak ikut berperang." (QS. At-Taubah: 83).

 Kita haruslah berhati-hati dari mengalami nasib seperti ini, yaitu menjadi orang yang tidak berhak menjalankan perintah Allah I  yang penuh berkah. seringnya kita mengikuti hawa nafsu, akan menyebabkan kita tertimpa hukuman, berupa tertutupnya hati dari hidayah.
Allah U berfirman (artinya), "Dan (begitu pula) Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya (Al Qur'an) pada permulaannya, dan Kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatannya." (QS. Al An'am: 110).

Itulah sebabnya pentingnya persiapan dalam menyambut kedatangan Ramadhan, sehingga kita tidak dihukum dengan tidak berdayanya kita dalam melakukan kebaikan dan kehinaan dengan tidak boleh menambah ketaatan.

Mari kita renungkan kembali ayat-ayat di atas. Allah Y tidak menyukai keberangkatan mereka lalu Allah lemahkan mereka. Karena tidak ada persiapan dari mereka dan niat mereka pun tidak lurus. 

Namun, apabila seseorang bersiap untuk menunaikan suatu amal, dan ia bangkit menghadap Allah dengan kerelaan hati, maka Allah tidak menolah menolak hambanya yang datang menghadap-Nya. Sehingga dahulu, generasi salafush shaleh selalu mempersiapkan diri-diri mereka dalam menyambut Ramadhan dengan sebaik-baiknya.

BEGINI SEHARUSNYA MENYAMBUT RAMADHAN

Perbarui Taubat
Persiapan lain untuk menyambut Ramadhan adalah taubat. Semoga Allah I mengaruniakan taubat nasuha kepada kita agar Ia ridha. Karena taubat wajib dilakukan seorang hamba setiap saat.

Allah U berfirman, artinya, "Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman, supaya kamu beruntung." (QS. An-Nur: 31).

Agungkan Perintah dan Larangan Allah I
Kita harus memiliki rasa kuatir yang besar, jika kita tetap tidak terbebas dari api neraka meski telah melewati Ramadhan. Bagaimana nasib Bani Israil, tatkala mereka tidak menghormati perintah Allah U untuk tidak mencari ikan di hari Sabtu? Allah Y mengubah mereka menjadi kera.

Allah I berfirman, artinya, "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." (QS. Al Baqarah: 183).

Ini adalah perintah, kewajiban sekaligus ritual yang agung. Barangsiapa mengagungkannya, dia adalah orang bertakwa. Allah I berfirman, artinya,
"Demikianlah (perintah Allah), dan barangsiapa mengagungkan syi'ar-syi'ar Allah maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati." (QS. Al Hajj: 32).

Secara fitrah, hati manusia membenci kemaksiatan. Tetapi sebagaimana diketahui, fitrah bisa berubah-ubah. Karenanya, sebelum Ramadhan datang, kita harus berusaha mengembalikan fitrah ini ke dalam hati bila ia telah hilang, atau memperkuatnya bila telah melemah. 

Dengannya, seseorang menjadi enggan bermaksiat kepada Allah, khususnya setelah merasakan kondisi keimanan di tengah ibadah puasa. Agar hati terlatih bersikap enggan terhadap maksiat sebelum Ramadhan datang.

Bertafaqquh (mempelajari) hukum-hukum puasa dan dan mengenal petunjuk Nabi r sebelum memasuki Ramadhan
Pelajari syarat-syarat diterimanya puasa, hal-hal yang membatalkannya, hukum berpuasa di hari syak, perbuatan-perbuatan yang dibolehkan dan dilarang bagi yang berpuasa, adab-adab dan sunnah-sunnah berpuasa, hukum-hukum shalat tarawih, hukum-hukum yang berkaitan dengan orang yang memiliki udzur seperti mengadakan perjalanan, sakit, hukum-hukum yang berkaitan dengan zakat fitri dan lain-lain. Maka hendaknya kita berilmu sebelum memahami dan mengamalkannya. 

Rasulullah r bersabda, “Barang siapa yang diinginkan oleh Allah kebaikan kepadanya, maka Allah memahamkannya dalam ilmu ad-Diin.” (HR. Bukhari dan Muslim).
~Dari berbagai sumber~

Buletin Al-Fikrah No. 26 Tahun XIV 12 Sya'ban 1434 H/21 Juni 2013 M

Senin, 17 Juni 2013

Peran Orang Tua dalam Membentuk Kepribadian Anak


Pernahkah Anda memandang anak-anak Anda dengan penuh rasa dan harapan? Sembari berdoa agar kelak tumbuh menjadi anak-anak yang shaleh.  Ataukah Anda melihat mereka seakan tidak membawa pesan apapun?
Anak-anak adalah generasi yang mesti dijaga dan tak boleh disia-siakan.
Lalu langkah apa yang mesti ditempuh kedua orang tua dalam membentuk kepribadian anak?
Langkah pertama dan yang paling penting adalah Kesalehan orang tua. Dengan kesalehan keduanya, anak-anak akan menjadi baik. Anak-anak tumbuh sesuai yang dibiasakan orang tuanya.
Penyebutan ibu didahulukan dari ayah karena beban terbesar dalam pendidikan anak berada di pundak ibu.Kebersamaan seorang ibu bersama anak-anaknya lebih lama dibanding seorang ayah yang sibuk mencari rezeki. Seorang ibu adalah pendidik pertama bagi anak-anaknya agar tumbuh mencintai dan mengamalkan agama ini. Generasi yang demikian haruslah tumbuh dari tanah yang baik dan subur.
Ibulah madrasah pertama yang menelurkan ulama, dai dan mujahid-mujahid pemberani. Karenanya ibu (istri) solehah amatlah penting dalam membangun masyarakat dan melahirkan generasi yang diberkahi. Rasulullah ` pun mendorong dan memotivasi hal ini dengan sabdanya, “Wanita dinikahi karena empat hal; karena hartanya, keturunannya, kecantikannya dan agamanya. Pilihlah agamanya maka engkau tidak akan menyesal.” (HR. Bukhari).
Benar...
Beruntunglah Anda yang memilih istri solehah lagi berilmu, sehingga melahirkan untuk umat ini ulama.
Beruntunglah Anda yang memilih istri mujahidah (pejuang), sehingga melahirkan untuk umat ini para kesatria.
Beruntunglah Anda yang memilih istri pendakwah, sehingga melahirkan untuk umat ini para juru dakwah.
Beruntunglah Anda yang memilih istri yang ahli ibadah, sehingga melahirkan untuk umat ini para ahli ibadah.
Yah, Anda sangat beruntung.
Karenanya para ibu memiliki peran besar dan agung dalam membangun kepribadian anak dan mendidik mereka agar mengamalkan agama ini. Demikian juga para ayah, yang memiliki peran besar yang tidak lebih kecil dari peran ibu.
CONTOH PRAKTIS
Pentingnya Kesalehan Ibu dan Ayah dalam Membangun Kepribadian Anak
Seorang ibu yang senantiasa menghentikan segala aktivitas ketika mendengar kumandang azan lalu meminta anak-anak untuk melakukan hal yang sama. Menjelaskan kepada mereka bahwa Allah l akan mencintai kita jika kita menunaikan shalat tepat pada waktunya. Kemudian segera berwudhu dan melaksanakan shalat.
Dengan demikian, anak-anak akan tumbuh sedari dini melaksanakan shalat tepat pada waktunya. Kenapa? Karena mereka telah belajar sejak kecil bahwa siapa yang melaksanakan shalat pada waktunya akan dicintai oleh Allah.
Kisah-kisah pentingnya peran orang tua dalam membangun kepribadian anak:
Sejarah Islam yang mulia merekam kisah-kisah dan contoh kepribadian anak yang dipengaruhi oleh kepribadian ayah dan ibu mereka. Di antaranya:
SSS
Kisah Keberanian Ayah Abdullah bin Zubair c
Ternyata menurut berbagai riwayat, keberanian Abdullah Ibn az-ZubairE adalah pengaruh dari keberanian ayah dan ibunya cyang ditirunya.
Al-Laits meriwayatkan dari Abul Aswad dari Urwah, katanya, "Az-Zubair memeluk Islam dalam usia 8 tahun. Suatu waktu dia pernah tersugesti oleh setan bahwa Rasulullah `ditangkap di dataran tinggi Mekkah. Az-Zubair yang masih kanak-kanak, berusia 12 tahun keluar rumah sambil membawa pedang. Setiap orang yang melihatnya terheran-heran dan berkata, “Anak kecil menenteng pedang?!”
Hingga akhirnya az-Zubair muda bertemu Nabi`. Nabi `turut heran terhadapnya dan bertanya,
“Ada apa denganmu wahai az-Zubair?!”
Az-Zubair mengabarkan (sugesti yang terlintas dalam fikirannya) seraya berkata,
“Aku datang untuk memenggal leher siapa pun yang menangkapmudengan pedangku ini!” (Siar a’lam an-Nubala, I/41-42).
SSS
Kisah Keberanian Ibu Abdullah bin Zubair
Dialah Asma binti Abu Bakar c,
Imam adz-Zahabi berkata, “Abu al-Muhayyah bin Ya’la at-Taymi menceritakan kepada kami dari ayahnya, katanya, “Aku masuk Mekkah setelah tiga hari terbunuhnya Ibnu az-Zubair yang terpasung. Ibunya yang sudah renta datang dan berkata kepada al-Hajjaj:
“Bukankah sekarang saatnya bagi yang terpasung (Abdullah bin Zubair) untuk diturunkan?”
“Si munafik?” Sela al-Hajjaj.
“Demi Allah, dia bukanlah orang munafik. Dia adalah anak yang senantiasa berpuasa, shalat malam dan berbakti pada orang tua,”  sergah Ibu Ibnu az-Zubair.
“Pergilah engkau wahai orang tua, engkau tengah membual.” Ucap al-Hajjaj.
Ibu Ibnu Zubair berkata lagi, “Tidak, demi Allah, aku tidaklah membual setelah Rasulullahr bersabda,
“Di Tsaqif akan ada pendusta dan orang yang lalim.” (Lihat Siar A’lam an-Nubala: 2/294).
Sabda Rasulullah ritu adalah prediksi beliau akan peritiwa yang akan terjadi setelah kematiannya. Ibu Ibnu az-Zubair cmerupakan salah satu sahabat Nabi `dari kaum wanita. Al-Hajjaj adalah salah seorang penguasa yang lalim.
SSS
Inilah Buah Keberanian Ayah dan Ibu Abdullah bin Zubair
“Keberanian Abdullah bin Zubair c”
Ishaq Ibn Abu Ishaq berkata, “Aku hadir pada peristiwa terbunuhnya Ibnu az-Zubair, dimana para tentara masuk mengepungnya dari setiap pintu masjid. Ketika sekelompok pasukan masuk dari suatu pintu, Abdullah Ibn az-Zubair menghalau dan mengeluarkan mereka. Dalam keadaan seperti itu, tiba-tiba jatuh plafon masjid dan menimpanya sehingga membuatnya tersungkur. Dia membaca bait syair:
Asma, wahai Asma(nama ibunya, red. janganlah menangisiku
Tidak akan tertinggal selain kemuliaan dan agamaku
serta pedang yang tergenggam di tangan kananku(Lihat Siar a’lam an-Nubala: 3/377).
~~~
Habib Ibn Zaid Terpengaruh Oleh Kedua Orang Tuanya
SSS
Pengorbanan Ibu
Anas Eberkata, "Abu Tolhah melamar Ummu Sulaim. Ummu Sulaim berkata kepada Abu Tolhah, "Tidaklah layak bagiku menikahi lelaki musyrik (politeisme). Tidakkah kamu tahu wahai Abu Tolhah bahwa tuhan-tuhanmu dibuat oleh Abdu Alu Fulan. Jika engkau bakar tuhan-tuhan itu niscaya akan terbakar?"
Abu Tolhah pun berlalu, sedangkan dalam hatinya terngiang-ngiang apa yang dikatakan Ummu Sulaim. Berselang dari itu dia datang lagi kepada Ummu Sulaim dan berkata, "Apa yang telah engkau ajukan kepadaku aku terima. Tidak ada mahar bagimu selain memeluk Islam."
SSS
Pengorbanan Seorang Ayah
Anas Eberkata, "Ketika perang Uhud kaum muslimin terdesak dan terpisah dari Rasulullah `, sedangkan Abu Tolhah tetap bersama Rasulullah melindung beliau dengan tombaknya. Abu Tolhah adalah seorang yang mahir memanah dan bertubuh kekar. Dia mampu mematahkan dua atau tiga busur sekaligus. Ketika ada seorang yang lewat membawa sekumpulan anak panah ada yang mengatakan,
"Berikan anak-anak panah itu kepada Abu Tolhah."Nabi ` mendongak melihat siapa mereka, namun Abu Tolhah berkata,
"Demi ibu dan ayahku, janganlah mendongak sehingga terkena sasaran panah mereka. Biarlah tubuhku menjadi pelindungmu.(HR. Bukhari).

SSS
Inilah Buah Keberanian Ibu dan Ayah Habib
“Anak Yang Mati Syahid”
Ibnu Kasir menyebutkan dalam kitab al-Bidâyah wa an-Nihâyah, "Habib Ibn Zaid dibunuh oleh Musailamah al-Kazdzab (seorang yang mengaku nabi sepeninggal Rasulullah ` -red.).
Ketika Musailamah menginterogasi Habib, dia bertanya, “Apakah engkau bersaksi bahwa Muhammad Rasulullah?"“Ya.” Jawab Habib. “Apakah engkau bersaksi bahwa aku Rasulullah?” Tanya Musailamah lagi.Habib menjawab, “Aku tidak mendengar perkataanmu!”
(Musailamah berang) dan memutilasi Habib sambil mengulang-ulang pertanyaannya. Habib tidak menjawab lebih dari yang dikatakannya semula hingga menghembuskan nafas terakhirnya. (Lihat Siar a’lam an-Nubala 8/444).
Inilah sepenggal kisah bagaimana hubungan yang sangat erat antara keshalehan orang tua dengan pembinaan kepribadian seorang anak. Salawat dan salam atas Nabi kita Muhammad, keluarga dan para sahabatnya.
Sumber: Disarikan dari“30 Langkah Mendidik Anak Agar Mengamalkan Ajaran Agama”Karya Salim Sholih Ahmad Ibn Madhi[islamhouse.com]


Salim Sholih Ahmad Ibn Madhi





Sabtu, 08 Juni 2013

Membela Hak Kaum Lemah


Allah l dengan hikmah-Nya telah menciptakan manusia berbeda-beda status sosialnya. Ada yang menjadi pemimpin, ada pula yang dipimpin. Sebagian ditakdirkan kaya, sebagiannya lagi ditakdirkan miskin. Bahkan ada yang menjadi budak sahaya dan ada pula yang merdeka. Semuanya dijadikan sebagai ujian bagi hamba-Nya.
Sebagaimana firman-Nya, “Dan Kami jadikan sebagian kamu cobaan bagi sebagian yang lain, maukah kamu bersabar? Dan adalah Rabb kalian Mahamelihat.” (QS. al-Furqan: 20).
Juga firman-Nya (artinya), “Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. Dan rahmat Rabbmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.”(QS. az-Zukhruf: 32).
Manusia sebagai makhluk sosial tentunya tidak bisa lepas dari ketergantungan dengan orang lain. Orang kaya tidak akan terpenuhi kebutuhannya dengan baik tanpa bantuan orang miskin. Pemerintah tidak akan bisa mewujudkan berbagai program secara sempurna  bila tidak mendapat dukungan dari rakyat. Oleh karenanya, jurang pemisah antara si kaya dan si miskin, antara pemerintah dan rakyat biasa harus segera dikubur, dengan ini akan terwujud kehidupan yang dinamis, di mana masing-masing tahu peranannya agar tercapai kemaslahatan bersama.
KEMULIAAN DENGAN KETAKWAAN
Bila kita mau melihat masyarakat yang dipimpin oleh Nabi Muhammad `, yaitu para sahabat F, maka kita dapatkan mereka berasal dari negeri yang berbeda-beda dan status sosial yang tidak sama. Ada di antara mereka yang dari Arab, Romawi, Habasyah, dan orang-orang Persia. Ada dari keluarga terpandang seperti dari qabilah Quraisy, ada pula dari budak sahaya. Ada yang kaya raya seperti Utsman bin Affan E, ada pula yang miskin seperti Abu Hurairah E.
Keanekaragaman tidak menjadi soal manakala prinsip dalam beragama itu sama. Mereka berbaur satu sama lain untuk bersama-sama memperjuangkan agama Allah. Kecintaan mereka terhadap saudara-saudaranya yang seiman melebihi kecintaan mereka terhadap karib kerabat mereka yang tidak beriman. Bahkan mereka berlepas diri dari keluarga mereka yang tidak beriman. Allah l berfirman (artinya), “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kalian.”(QS. al-hujurat: 13).
Timbangan kemuliaan di sisi Allah, Zat yang mencipta, mengatur alam semesta dan yang berhak diibadahi adalah ketakwaan. Maka, barangsiapa yang bertakwa dengan mengerjakan perintah-perintah Allah ldan menjauhi larangan-Nya dia itulah orang yang mulia dalam timbangan Islam. Meski orang-orang menganggapnya sebagai orang yang rendah.
Tatkala sahabat Abu Dzar al-Ghifari mencela Bilal c karena ibunya bukan berasal dari negeri Arab, Nabi ` marah kepada Abu Dzar dengan mengatakan, “Sesungguhnya di dalam dirimu masih tersisa perangai atau sifat orang jahiliyah.” (HR. Bukhari no. 6050).
Lantas Abu Dzar sadar akan kesalahannya tersebut. Ketakwaan pulalah yang mengangkat sahabat Bilal E yang dahulunya budak sahaya menjadi salah satu muadzin Rasulullah ` yang sangat terkenal. Bahkan tatkala penaklukan kota Mekkah, Nabi ` memerintahkan Bilal E naik ke atas Ka’bah dan mengumandangkan adzan. Suatu hal yang mencengangkan para pembesar Quraisy kala itu. (Zadul Ma’ad, 3/361).
JANGAN MENDZALIMI YANG LEMAH
Kedzaliman dalam bentuk apapun dan terhadap siapa pun adalah kejahatan yang perilakunya berhak mendapatkan hukuman di dunia sebelum hukuman di akhirat kelak. Sahabat Abu Bakrah E meriwayatkan hadits Nabi `, “Tiada suatu dosa yang lebih pantas Allah segerakan hukuman bagi pelakunya di dunia, di samping adzab yang Allah sediakan untuknya di akhirat daripada kedzaliman dan memutuskan silaturrahim.” (HR. Ahmad, al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad).
ORANG LEMAH HARUS DIPERHATIKAN HAKNYA
Di antara orang-orang lemah yang harus diperhatikan haknya adalah sebagai berikut:
1.           Anak Yatim
Yaitu anak yang di tinggal mati oleh ayahnya dan dia belum baligh. Di saat seorang anak sangat membutuhkan belaian kasih sayang orang tuanya, ternyata ia harus mengalami kenyataan pahit seperti ini.
Rasulullah ` bersabda, “Saya bersama dengan orang yang mengurusi anak yatim di surga seperti keduanya ini—Nabi ` mengisyaratkan dengan jari telunjuknya dan jari tengahnya dengan merenggangkan keduanya.” (HR. Al-Bukhari).
Demikian balasan mulia bagi orang yang menyantuni anak yatim. Namun sebaliknya, orang yang tidak menyayangi anak yatim dan menelantarkannya, atau bahkan memakan harta anak yatim, dia diancam dengan adzab yang pedih.
2.           Janda dan Orang Miskin
Wanita yang ditinggal mati suaminya pada umumnya sangat membutuhkan uluran tangan. Bagaimana tidak? Kini orang yang bisa mencari nafkah untuknya telah tiada. Beban kehidupannya semakin bertambah. Hal seperti ini tentunya mengetuk hati orang yang memiliki kelebihan rezeki untuk menginfakkannya.
Demikian pula orang miskin yang tidak memiliki sesuatu untuk mencukupi kebutuhan dirinya beserta anak dan istrinya, maka seharusnya pulalah kita membantunya. Rasulullah ` bersabda, “Orang yang bekerja untuk mencukupi para janda dan orang miskin seperti orang yang berjuang di jalan Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim).
3.           Anak
Anak merupakan buah hati seorang dan penerus generasi di masa mendatang. Kiranya suatu kedzaliman yang besar manakala seseorang tidak memenuhi hak mereka. Hak anak tidak hanya pada pemberian nafkah berupa makanan, pakaian, dan semisalnya. Bahkan ada hak yang sering diabaikan, yaitu hak pendidikan agama yang memadai.
Tunaikanlah hak-hak seorang anak, berilah mereka kasih sayang yang cukup dan berlaku adillah kepada mereka. Ketika Nabi ` tahu ada seorang sahabat memberikan suatu pemberian kepada seorang anaknya namun anak yang lain tidak diberi, beliau ` marah dan mengatakan, “Bertakwalah kalian kepada Allah dan berbuat adillah terhadap anak-anak kalian.” (HR. Bukhari dan Muslim).
4.           Kaum wanita
Ketika haji Wada’ yang dihadiri oleh puluhan ribu manusia dari berbagai daerah, Rasulullah ` memberikan pesan terakhir sebelum wafatnya. Di antara pesan-pesan tersebut adalah keharusan untuk berbuat baik kepada kaum wanita. Para wanita di dalam Islam memiliki posisi yang penting yang tidak bisa diabaikan. Mereka membantu laki-laki dalam tercapainya kemaslahatan duniawi dan ukhrawi.
Orang yang terbaik adalah yang terbaik terhadap istrinya dan orang yang jelek adalah orang yang tidak berbuat baik terhadap para wanita. Allah l telah memerintahkan untuk mempergauli wanita dengan baik sebagaimana firman-Nya, “Dan pergaulilah mereka dengan baik.” (QS. An-Nisa’: 19).
5.           Rakyat jelata
Merupakan kewajiban bagi pemerintah untuk memberikan hak-hak rakyat, dengan menebarkan perasaan aman dan nyaman, menjunjung tinggi keadilan, serta menindak orang-orang yang jahat. Kekuasaan merupakan amanah untuk mewujudkan kemashlahatan dalam perkara agama dan dunia. Sehingga manakala pemerintah menyia-nyiakan hak rakyatnya dan tidak peduli terhadap tugasnya, maka kesengsaraan dan adzab telah menunggu mereka.
Rasulullah ` bersabda, “Tiada seorang hamba yang diserahkan kepadanya kepemimpinan terhadap rakyat, lalu dia mati dalam keadaan berkhianat kepada rakyatnya, kecuali Allah haramkan surga baginya.” (Muttafaqun alahi).
Semoga Allah l memberikan kita petunjuk agar mampu menjaga hak-hak seluruh umat manusia. Sehingga perasaan aman dan nyaman serta ruh kecintaan benar-benar menebar dalam kehidupan ini.
Wallahu A’lam (dari berbagai sumber).
?Alif Jumai Rajab

Buletin Al-Fikrah No. 24 Tahun XIV, 28 Rajab 1434 H/7 Juni 2013 M