Buletin Al-Fikrah Edisi 11 Tahun XIV: Bahaya Mengumbar Pandangan

Pandangan adalah jendela bagi hati. Barang siapa yang mampu menjaga pandangannya, maka akan bagus hatinya. Namun, bagi ...

Mufti Yaman Ziarah ke Ma'had 'Aly al-Wahdah

Satu lagi ulama besar berkunjung ke Ma’had ‘Aly al-Wahdah. Kali ini, Wakil Ketua Majelis Ulama Yaman menyempatkan diri bersilaturrahim ...

KULIAH PERDANA SEMESTER GENAP TAHUN AJARAN 1433-1434 H

Senin, 30 Rabiul Awwal 1434 H (11 Februari 2013 M), masjid Al-Ihsan Kampus Ma'had 'Aly Al-Wahdah (STIBA Makassar) kembali disesaki ...

Meraih Kelezatan Beribadah

Sesungguhnya Allah tidaklah menciptakan para makhluk dengan sia-sia dan tidak pula membiarkan amalan mereka tidak berguna ,akan tetapi ...

::: Marhaban Bikum Wa Jazakumullahu Khairan Atas Kunjungannya di Website Kami ::: www.stibamks.net :::

Senin, 17 Juni 2013

Peran Orang Tua dalam Membentuk Kepribadian Anak


Pernahkah Anda memandang anak-anak Anda dengan penuh rasa dan harapan? Sembari berdoa agar kelak tumbuh menjadi anak-anak yang shaleh.  Ataukah Anda melihat mereka seakan tidak membawa pesan apapun?
Anak-anak adalah generasi yang mesti dijaga dan tak boleh disia-siakan.
Lalu langkah apa yang mesti ditempuh kedua orang tua dalam membentuk kepribadian anak?
Langkah pertama dan yang paling penting adalah Kesalehan orang tua. Dengan kesalehan keduanya, anak-anak akan menjadi baik. Anak-anak tumbuh sesuai yang dibiasakan orang tuanya.
Penyebutan ibu didahulukan dari ayah karena beban terbesar dalam pendidikan anak berada di pundak ibu.Kebersamaan seorang ibu bersama anak-anaknya lebih lama dibanding seorang ayah yang sibuk mencari rezeki. Seorang ibu adalah pendidik pertama bagi anak-anaknya agar tumbuh mencintai dan mengamalkan agama ini. Generasi yang demikian haruslah tumbuh dari tanah yang baik dan subur.
Ibulah madrasah pertama yang menelurkan ulama, dai dan mujahid-mujahid pemberani. Karenanya ibu (istri) solehah amatlah penting dalam membangun masyarakat dan melahirkan generasi yang diberkahi. Rasulullah ` pun mendorong dan memotivasi hal ini dengan sabdanya, “Wanita dinikahi karena empat hal; karena hartanya, keturunannya, kecantikannya dan agamanya. Pilihlah agamanya maka engkau tidak akan menyesal.” (HR. Bukhari).
Benar...
Beruntunglah Anda yang memilih istri solehah lagi berilmu, sehingga melahirkan untuk umat ini ulama.
Beruntunglah Anda yang memilih istri mujahidah (pejuang), sehingga melahirkan untuk umat ini para kesatria.
Beruntunglah Anda yang memilih istri pendakwah, sehingga melahirkan untuk umat ini para juru dakwah.
Beruntunglah Anda yang memilih istri yang ahli ibadah, sehingga melahirkan untuk umat ini para ahli ibadah.
Yah, Anda sangat beruntung.
Karenanya para ibu memiliki peran besar dan agung dalam membangun kepribadian anak dan mendidik mereka agar mengamalkan agama ini. Demikian juga para ayah, yang memiliki peran besar yang tidak lebih kecil dari peran ibu.
CONTOH PRAKTIS
Pentingnya Kesalehan Ibu dan Ayah dalam Membangun Kepribadian Anak
Seorang ibu yang senantiasa menghentikan segala aktivitas ketika mendengar kumandang azan lalu meminta anak-anak untuk melakukan hal yang sama. Menjelaskan kepada mereka bahwa Allah l akan mencintai kita jika kita menunaikan shalat tepat pada waktunya. Kemudian segera berwudhu dan melaksanakan shalat.
Dengan demikian, anak-anak akan tumbuh sedari dini melaksanakan shalat tepat pada waktunya. Kenapa? Karena mereka telah belajar sejak kecil bahwa siapa yang melaksanakan shalat pada waktunya akan dicintai oleh Allah.
Kisah-kisah pentingnya peran orang tua dalam membangun kepribadian anak:
Sejarah Islam yang mulia merekam kisah-kisah dan contoh kepribadian anak yang dipengaruhi oleh kepribadian ayah dan ibu mereka. Di antaranya:
SSS
Kisah Keberanian Ayah Abdullah bin Zubair c
Ternyata menurut berbagai riwayat, keberanian Abdullah Ibn az-ZubairE adalah pengaruh dari keberanian ayah dan ibunya cyang ditirunya.
Al-Laits meriwayatkan dari Abul Aswad dari Urwah, katanya, "Az-Zubair memeluk Islam dalam usia 8 tahun. Suatu waktu dia pernah tersugesti oleh setan bahwa Rasulullah `ditangkap di dataran tinggi Mekkah. Az-Zubair yang masih kanak-kanak, berusia 12 tahun keluar rumah sambil membawa pedang. Setiap orang yang melihatnya terheran-heran dan berkata, “Anak kecil menenteng pedang?!”
Hingga akhirnya az-Zubair muda bertemu Nabi`. Nabi `turut heran terhadapnya dan bertanya,
“Ada apa denganmu wahai az-Zubair?!”
Az-Zubair mengabarkan (sugesti yang terlintas dalam fikirannya) seraya berkata,
“Aku datang untuk memenggal leher siapa pun yang menangkapmudengan pedangku ini!” (Siar a’lam an-Nubala, I/41-42).
SSS
Kisah Keberanian Ibu Abdullah bin Zubair
Dialah Asma binti Abu Bakar c,
Imam adz-Zahabi berkata, “Abu al-Muhayyah bin Ya’la at-Taymi menceritakan kepada kami dari ayahnya, katanya, “Aku masuk Mekkah setelah tiga hari terbunuhnya Ibnu az-Zubair yang terpasung. Ibunya yang sudah renta datang dan berkata kepada al-Hajjaj:
“Bukankah sekarang saatnya bagi yang terpasung (Abdullah bin Zubair) untuk diturunkan?”
“Si munafik?” Sela al-Hajjaj.
“Demi Allah, dia bukanlah orang munafik. Dia adalah anak yang senantiasa berpuasa, shalat malam dan berbakti pada orang tua,”  sergah Ibu Ibnu az-Zubair.
“Pergilah engkau wahai orang tua, engkau tengah membual.” Ucap al-Hajjaj.
Ibu Ibnu Zubair berkata lagi, “Tidak, demi Allah, aku tidaklah membual setelah Rasulullahr bersabda,
“Di Tsaqif akan ada pendusta dan orang yang lalim.” (Lihat Siar A’lam an-Nubala: 2/294).
Sabda Rasulullah ritu adalah prediksi beliau akan peritiwa yang akan terjadi setelah kematiannya. Ibu Ibnu az-Zubair cmerupakan salah satu sahabat Nabi `dari kaum wanita. Al-Hajjaj adalah salah seorang penguasa yang lalim.
SSS
Inilah Buah Keberanian Ayah dan Ibu Abdullah bin Zubair
“Keberanian Abdullah bin Zubair c”
Ishaq Ibn Abu Ishaq berkata, “Aku hadir pada peristiwa terbunuhnya Ibnu az-Zubair, dimana para tentara masuk mengepungnya dari setiap pintu masjid. Ketika sekelompok pasukan masuk dari suatu pintu, Abdullah Ibn az-Zubair menghalau dan mengeluarkan mereka. Dalam keadaan seperti itu, tiba-tiba jatuh plafon masjid dan menimpanya sehingga membuatnya tersungkur. Dia membaca bait syair:
Asma, wahai Asma(nama ibunya, red. janganlah menangisiku
Tidak akan tertinggal selain kemuliaan dan agamaku
serta pedang yang tergenggam di tangan kananku(Lihat Siar a’lam an-Nubala: 3/377).
~~~
Habib Ibn Zaid Terpengaruh Oleh Kedua Orang Tuanya
SSS
Pengorbanan Ibu
Anas Eberkata, "Abu Tolhah melamar Ummu Sulaim. Ummu Sulaim berkata kepada Abu Tolhah, "Tidaklah layak bagiku menikahi lelaki musyrik (politeisme). Tidakkah kamu tahu wahai Abu Tolhah bahwa tuhan-tuhanmu dibuat oleh Abdu Alu Fulan. Jika engkau bakar tuhan-tuhan itu niscaya akan terbakar?"
Abu Tolhah pun berlalu, sedangkan dalam hatinya terngiang-ngiang apa yang dikatakan Ummu Sulaim. Berselang dari itu dia datang lagi kepada Ummu Sulaim dan berkata, "Apa yang telah engkau ajukan kepadaku aku terima. Tidak ada mahar bagimu selain memeluk Islam."
SSS
Pengorbanan Seorang Ayah
Anas Eberkata, "Ketika perang Uhud kaum muslimin terdesak dan terpisah dari Rasulullah `, sedangkan Abu Tolhah tetap bersama Rasulullah melindung beliau dengan tombaknya. Abu Tolhah adalah seorang yang mahir memanah dan bertubuh kekar. Dia mampu mematahkan dua atau tiga busur sekaligus. Ketika ada seorang yang lewat membawa sekumpulan anak panah ada yang mengatakan,
"Berikan anak-anak panah itu kepada Abu Tolhah."Nabi ` mendongak melihat siapa mereka, namun Abu Tolhah berkata,
"Demi ibu dan ayahku, janganlah mendongak sehingga terkena sasaran panah mereka. Biarlah tubuhku menjadi pelindungmu.(HR. Bukhari).

SSS
Inilah Buah Keberanian Ibu dan Ayah Habib
“Anak Yang Mati Syahid”
Ibnu Kasir menyebutkan dalam kitab al-Bidâyah wa an-Nihâyah, "Habib Ibn Zaid dibunuh oleh Musailamah al-Kazdzab (seorang yang mengaku nabi sepeninggal Rasulullah ` -red.).
Ketika Musailamah menginterogasi Habib, dia bertanya, “Apakah engkau bersaksi bahwa Muhammad Rasulullah?"“Ya.” Jawab Habib. “Apakah engkau bersaksi bahwa aku Rasulullah?” Tanya Musailamah lagi.Habib menjawab, “Aku tidak mendengar perkataanmu!”
(Musailamah berang) dan memutilasi Habib sambil mengulang-ulang pertanyaannya. Habib tidak menjawab lebih dari yang dikatakannya semula hingga menghembuskan nafas terakhirnya. (Lihat Siar a’lam an-Nubala 8/444).
Inilah sepenggal kisah bagaimana hubungan yang sangat erat antara keshalehan orang tua dengan pembinaan kepribadian seorang anak. Salawat dan salam atas Nabi kita Muhammad, keluarga dan para sahabatnya.
Sumber: Disarikan dari“30 Langkah Mendidik Anak Agar Mengamalkan Ajaran Agama”Karya Salim Sholih Ahmad Ibn Madhi[islamhouse.com]


Salim Sholih Ahmad Ibn Madhi





Sabtu, 08 Juni 2013

Membela Hak Kaum Lemah


Allah l dengan hikmah-Nya telah menciptakan manusia berbeda-beda status sosialnya. Ada yang menjadi pemimpin, ada pula yang dipimpin. Sebagian ditakdirkan kaya, sebagiannya lagi ditakdirkan miskin. Bahkan ada yang menjadi budak sahaya dan ada pula yang merdeka. Semuanya dijadikan sebagai ujian bagi hamba-Nya.
Sebagaimana firman-Nya, “Dan Kami jadikan sebagian kamu cobaan bagi sebagian yang lain, maukah kamu bersabar? Dan adalah Rabb kalian Mahamelihat.” (QS. al-Furqan: 20).
Juga firman-Nya (artinya), “Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. Dan rahmat Rabbmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.”(QS. az-Zukhruf: 32).
Manusia sebagai makhluk sosial tentunya tidak bisa lepas dari ketergantungan dengan orang lain. Orang kaya tidak akan terpenuhi kebutuhannya dengan baik tanpa bantuan orang miskin. Pemerintah tidak akan bisa mewujudkan berbagai program secara sempurna  bila tidak mendapat dukungan dari rakyat. Oleh karenanya, jurang pemisah antara si kaya dan si miskin, antara pemerintah dan rakyat biasa harus segera dikubur, dengan ini akan terwujud kehidupan yang dinamis, di mana masing-masing tahu peranannya agar tercapai kemaslahatan bersama.
KEMULIAAN DENGAN KETAKWAAN
Bila kita mau melihat masyarakat yang dipimpin oleh Nabi Muhammad `, yaitu para sahabat F, maka kita dapatkan mereka berasal dari negeri yang berbeda-beda dan status sosial yang tidak sama. Ada di antara mereka yang dari Arab, Romawi, Habasyah, dan orang-orang Persia. Ada dari keluarga terpandang seperti dari qabilah Quraisy, ada pula dari budak sahaya. Ada yang kaya raya seperti Utsman bin Affan E, ada pula yang miskin seperti Abu Hurairah E.
Keanekaragaman tidak menjadi soal manakala prinsip dalam beragama itu sama. Mereka berbaur satu sama lain untuk bersama-sama memperjuangkan agama Allah. Kecintaan mereka terhadap saudara-saudaranya yang seiman melebihi kecintaan mereka terhadap karib kerabat mereka yang tidak beriman. Bahkan mereka berlepas diri dari keluarga mereka yang tidak beriman. Allah l berfirman (artinya), “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kalian.”(QS. al-hujurat: 13).
Timbangan kemuliaan di sisi Allah, Zat yang mencipta, mengatur alam semesta dan yang berhak diibadahi adalah ketakwaan. Maka, barangsiapa yang bertakwa dengan mengerjakan perintah-perintah Allah ldan menjauhi larangan-Nya dia itulah orang yang mulia dalam timbangan Islam. Meski orang-orang menganggapnya sebagai orang yang rendah.
Tatkala sahabat Abu Dzar al-Ghifari mencela Bilal c karena ibunya bukan berasal dari negeri Arab, Nabi ` marah kepada Abu Dzar dengan mengatakan, “Sesungguhnya di dalam dirimu masih tersisa perangai atau sifat orang jahiliyah.” (HR. Bukhari no. 6050).
Lantas Abu Dzar sadar akan kesalahannya tersebut. Ketakwaan pulalah yang mengangkat sahabat Bilal E yang dahulunya budak sahaya menjadi salah satu muadzin Rasulullah ` yang sangat terkenal. Bahkan tatkala penaklukan kota Mekkah, Nabi ` memerintahkan Bilal E naik ke atas Ka’bah dan mengumandangkan adzan. Suatu hal yang mencengangkan para pembesar Quraisy kala itu. (Zadul Ma’ad, 3/361).
JANGAN MENDZALIMI YANG LEMAH
Kedzaliman dalam bentuk apapun dan terhadap siapa pun adalah kejahatan yang perilakunya berhak mendapatkan hukuman di dunia sebelum hukuman di akhirat kelak. Sahabat Abu Bakrah E meriwayatkan hadits Nabi `, “Tiada suatu dosa yang lebih pantas Allah segerakan hukuman bagi pelakunya di dunia, di samping adzab yang Allah sediakan untuknya di akhirat daripada kedzaliman dan memutuskan silaturrahim.” (HR. Ahmad, al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad).
ORANG LEMAH HARUS DIPERHATIKAN HAKNYA
Di antara orang-orang lemah yang harus diperhatikan haknya adalah sebagai berikut:
1.           Anak Yatim
Yaitu anak yang di tinggal mati oleh ayahnya dan dia belum baligh. Di saat seorang anak sangat membutuhkan belaian kasih sayang orang tuanya, ternyata ia harus mengalami kenyataan pahit seperti ini.
Rasulullah ` bersabda, “Saya bersama dengan orang yang mengurusi anak yatim di surga seperti keduanya ini—Nabi ` mengisyaratkan dengan jari telunjuknya dan jari tengahnya dengan merenggangkan keduanya.” (HR. Al-Bukhari).
Demikian balasan mulia bagi orang yang menyantuni anak yatim. Namun sebaliknya, orang yang tidak menyayangi anak yatim dan menelantarkannya, atau bahkan memakan harta anak yatim, dia diancam dengan adzab yang pedih.
2.           Janda dan Orang Miskin
Wanita yang ditinggal mati suaminya pada umumnya sangat membutuhkan uluran tangan. Bagaimana tidak? Kini orang yang bisa mencari nafkah untuknya telah tiada. Beban kehidupannya semakin bertambah. Hal seperti ini tentunya mengetuk hati orang yang memiliki kelebihan rezeki untuk menginfakkannya.
Demikian pula orang miskin yang tidak memiliki sesuatu untuk mencukupi kebutuhan dirinya beserta anak dan istrinya, maka seharusnya pulalah kita membantunya. Rasulullah ` bersabda, “Orang yang bekerja untuk mencukupi para janda dan orang miskin seperti orang yang berjuang di jalan Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim).
3.           Anak
Anak merupakan buah hati seorang dan penerus generasi di masa mendatang. Kiranya suatu kedzaliman yang besar manakala seseorang tidak memenuhi hak mereka. Hak anak tidak hanya pada pemberian nafkah berupa makanan, pakaian, dan semisalnya. Bahkan ada hak yang sering diabaikan, yaitu hak pendidikan agama yang memadai.
Tunaikanlah hak-hak seorang anak, berilah mereka kasih sayang yang cukup dan berlaku adillah kepada mereka. Ketika Nabi ` tahu ada seorang sahabat memberikan suatu pemberian kepada seorang anaknya namun anak yang lain tidak diberi, beliau ` marah dan mengatakan, “Bertakwalah kalian kepada Allah dan berbuat adillah terhadap anak-anak kalian.” (HR. Bukhari dan Muslim).
4.           Kaum wanita
Ketika haji Wada’ yang dihadiri oleh puluhan ribu manusia dari berbagai daerah, Rasulullah ` memberikan pesan terakhir sebelum wafatnya. Di antara pesan-pesan tersebut adalah keharusan untuk berbuat baik kepada kaum wanita. Para wanita di dalam Islam memiliki posisi yang penting yang tidak bisa diabaikan. Mereka membantu laki-laki dalam tercapainya kemaslahatan duniawi dan ukhrawi.
Orang yang terbaik adalah yang terbaik terhadap istrinya dan orang yang jelek adalah orang yang tidak berbuat baik terhadap para wanita. Allah l telah memerintahkan untuk mempergauli wanita dengan baik sebagaimana firman-Nya, “Dan pergaulilah mereka dengan baik.” (QS. An-Nisa’: 19).
5.           Rakyat jelata
Merupakan kewajiban bagi pemerintah untuk memberikan hak-hak rakyat, dengan menebarkan perasaan aman dan nyaman, menjunjung tinggi keadilan, serta menindak orang-orang yang jahat. Kekuasaan merupakan amanah untuk mewujudkan kemashlahatan dalam perkara agama dan dunia. Sehingga manakala pemerintah menyia-nyiakan hak rakyatnya dan tidak peduli terhadap tugasnya, maka kesengsaraan dan adzab telah menunggu mereka.
Rasulullah ` bersabda, “Tiada seorang hamba yang diserahkan kepadanya kepemimpinan terhadap rakyat, lalu dia mati dalam keadaan berkhianat kepada rakyatnya, kecuali Allah haramkan surga baginya.” (Muttafaqun alahi).
Semoga Allah l memberikan kita petunjuk agar mampu menjaga hak-hak seluruh umat manusia. Sehingga perasaan aman dan nyaman serta ruh kecintaan benar-benar menebar dalam kehidupan ini.
Wallahu A’lam (dari berbagai sumber).
?Alif Jumai Rajab

Buletin Al-Fikrah No. 24 Tahun XIV, 28 Rajab 1434 H/7 Juni 2013 M

Kamis, 06 Juni 2013

Akibat Riba Rugi Dunia Akhirat



Barangkali kita pernah mendengar ucapan seperti ini, “Apa boleh buat, saya harus meminjam uang meski pinjaman itu berbunga untuk merampungkan bangunan rumah saya.” Atau, “Satu-satunya cara yang paling mudah agar usaha saya bisa berkembang hanya dengan mengambil pinjaman modal di bank.” Atau pernyataan-pernyataan yang berbeda-beda namun senada, tapi dengan satu alasan yang sama; darurat. Bukankah perkara yang sifatnya darurat membolehkan  hal yang terlarang?
Padahal menurut definisi para ulama, hal tersebut belum termasuk perkara darurat.

HUKUMAN PELAKU RIBA
I.    Menurut al-Qur’an
Keharaman riba demikian jelas dinyatakan dalam syariat. Allah l berfirman (artinya), Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang mengulangi (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa. (QS. al-Baqarah: 275-276)
Dalam ayat lain Allah U berfirman (artinya), Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya..” (QS. al-Baqarah: 278-279).
Penyebutan dengan sifat tidak terpuji, ada ancaman dan hukuman yang disebutkan dalam ayat-ayat di atas, sudah cukup untuk menunjukkan keharaman riba. Apalagi secara jelas Allah l menegaskan (artinya), Dan Dia mengharamkaan riba.”
Syaikh Abdul ‘Aziz bin Abdillah bin Baz t berkata, “Ayat-ayat yang mulia di atas menunjukkan secara jelas tentang kerasnya keharaman riba dan bahwa perbuatan riba termasuk dosa besar yang memasukkan pelaku ke dalam neraka. Demikian pula ayat-ayat di atas menunjukkan bahwa Allah U akan memusnahkan penghasilan orang yang melakukan riba dan menyuburkan sedekah. Yakni Allah l menjaga dan menumbuhkembangkan harta sedekah utk pelaku sehingga harta yang sedikit menjadi banyak bila diperoleh dari penghasilan yang baik. Dalam ayat terakhir disebutkan secara jelas bahwa orang yang melakukan riba adalah orang yang memerangi Allah U dan Rasul-Nya. Yang wajib dia lakukan adalah bertaubat kepada Allah U dan mengambil pokok dari harta tanpa tambahannya.”
Al-Imam Al-Mawardi t ketika menafsirkan “Maka ketahuilah bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangi kalian, beliau berkata, “Makna ayat ini ada dua sisi:
Pertama: Jika kalian tidak berhenti dari perbuatan riba maka Aku akan memerintahkan Nabi untuk memerangi kalian.
Kedua: Jika kalian tidak berhenti dari perbuatan riba berarti kalian adalah orang yang diperangi oleh Allah l dan Rasul-Nya.”
Dari empat ayat dalam surat al-Baqarah di atas dapat disimpulkan bahwa akibat buruk atau hukuman yang akan diperoleh pelaku riba adalah sebagai berikut:
1. Dibangkitkan dari kubur pada hari kiamat nanti seperti orang gila karena kerasukan setan.
2. Diancam kekal dalam neraka (jika mengingkari keharaman riba).
3. Harta yang diperoleh dari riba akan dihilangkan berakahnya.
Bila pelaku menginfakkan sebagian dari harta riba tersebut niscaya ia tidak akan diberi pahala bahkan akan menjadi bekal bagi dia utk menuju neraka. Demikian dinyatakan Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di t.
Allah memusnahkan riba dan menumbuhkembangkan sedekah.”  (QS. Al-Baqarah: 276).
Pemusnahan harta riba itu bisa jadi dengan musnah seluruh harta tersebut dari tangan pemilik ataupun dengan hilangnya berkah dari harta tersebut sehingga pemilik tidak dapat mengambil manfaatnya. Bahkan ia akan kehilangan harta itu di dunia dan kelak di hari kiamat ia akan beroleh siksa. Karena harta ribawalaupun nampak banyak—pada akhirnya akan sedikit dan hina. Allah l berfirman, Apa yang kalian datangkan dari suatu riba guna menambah harta manusia maka sebenarnya riba itu tidak menambah harta di sisi Allah.” (QS. Ar-Ruum: 30).
4. Allah l berfirman, Dan Allah tidak menyukai tiap orang yang tetap dalam kekafiran dan selalu berbuat dosa.”
Al-Imam asy-Syaukani t menafsirkan, “Yakni Allah U tidak menyukai siapa saja yang tetap dalam kekafiran dan selalu berbuat dosa. Karena kecintaan itu dikhususkan bagi orang-orang yang bertaubat. Dalam ayat ini ada ancaman yang berat lagi besar bagi orang yang melakukan riba di mana Allah l menghukumi dengan kekafiran dan menyifati dengan selalu berbuat dosa.”
5. Dinyatakan sebagai musuh dan siap diperangi oleh Allah l beserta Rasul-Nya.

II. Menurut Hadits
Jabir bin Abdillah E berkata, “Rasulullah ` melaknat orang yang memakan riba, pemberi riba, juru tulis, dan kedua saksinya. Beliau mengatakan, Mereka itu sama’.” (HR. Muslim).
Hadits di atas mengabarkan laknat Rasulullah ` terhadap orang yang mengambil dan memberi riba, mencatat transaksi ribawi dan menjadi saksinya. Mendapatkan laknat berarti mendapatkan celaan dan terjauhkan dari rahmat Allah l. Karena laknat memiliki dua makna:
Pertama: Bermakna celaan dan cercaan.
Kedua: Bermakna terusir dan terjauhkan dari rahmat Allah l.
Dengan demikian pihak-pihak yang bersentuhan dengan muamalah ribawi ini terjauhkan dari rahmat Allah U. Padahal seorang hamba sangat butuh terhadap rahmat-Nya.
Al-Imam As-Sindi t mengatakan, “Mereka semua mendapatkan laknat karena bersekutu dalam berbuat dosa.”
Hadits Rasulullah ` yang disampaikan lewat shahabat beliau Abdullah bin Mas’ud E berikut ini juga menjadi bukti bahwa riba itu walaupun kelihatan menambah harta namun pada akhir akan membuat harta itu sedikit dan musnah. Beliau ` bersabda,
Tidak ada seorang pun yang banyak melakukan riba kecuali akhir dari perkaranya adalah harta menjadi sedikit.” (HR. Ibnu Majah dan dinyatakan shahih oleh Syaikh al-Albani t).
Di samping akibat buruk dari perbuatan riba yang telah disebutkan di atas Rasul yang mulia ` juga telah mengabarkan bahwa mengambil riba termasuk dari tujuh dosa yang membinasakan pelakunya. Abu Hurairah E berkata mengabarkan sabda Rasulullah `,,,
Jauhilah oleh kalian tujuh perkara yang membinasakan.” Kami bertanya, “Apakah tujuh perkara itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab,Menyekutukan Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamakan oleh Allah untuk dibunuh kecuali dengan haq, memakan riba, memakan harta anak yatim, lari pada hari bertemu dua pasukan, dan menuduh berzina wanita baik-baik yang menjaga kehormatan dirinya.” (Muttafaq alaih).
Rasulullah ` pernah bermimpi, Aku melihat pada malam itu dua orang laki-laki mendatangiku. Lalu keduanya mengeluarkan aku menuju ke tanah yang disucikan. Kemudian kami berangkat hingga kami mendatangi sebuah sungai darah. Di dalam sungai itu ada seorang lelaki yang sedang berdiri, sementara di bagian tengah sungai seorang lelaki yang di hadapannya terdapat bebatuan. Lalu menghadaplah lelaki yang berada di dalam sungai. Setiap kali lelaki itu hendak keluar dari dalam sungai lelaki yang berada di bagian atas dari tengah sungai tersebut melempar dengan batu pada bagian mulutnya. Maka si lelaki itu pun tertolak ke tempat semula. Setiap kali ia hendak keluar ia dilempari dengan batu pada mulut hingga ia kembali pada posisi semula. Aku pun bertanya, Siapa orang itu? Dijawab, Orang yang engkau lihat di dalam sungai darah tersebut adalah pemakan riba.” (HR. Bukhari).
Dalam hadits lain, Rasulullah ` bersabda, “Riba itu memiliki 73 pintu. Yang paling ringan (dosanya) adalah seperti seseorang yang berzina dengan ibunya sendiri” (HR al-Hakim dan al-Baihaqi, dinyatakan shahih oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih al-Jami’).
Inilah dosa riba yang paling ringan, sama dengan berzina dengan ibu kandung sendiri. Na’udzu billah mindzalik.
“Satu dirham riba yang dimakan oleh seorang lelaki, sementara ia tahu, lebih berat (dosanya) daripada berzina dengan 36 orang pelacur. (HR Ahmad & at-Thabrani, dinyatakan shahih oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih al-Jami’).
Satu dirham dari hasil riba dosanya lebih berat dari berzina dengan 36 orang pelacur, lalu bagaimana jika ribuan dirham? Silakan kalikan dengan 36.
Inilah sekelumit gambaran dosa para pelaku riba. Semoga Allah U melindungi kita dari dosa membinasakan ini. (Dari berbagai sumber).


Buletin Al-Fikrah No. 23 Tahun XIV, 21 Rajab 1434 H/31 Mei 2013 M